Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

16 Mei 2012

Makalah Evaluasi Diri


GURU PROFESIONAL
Oleh : Yudi Nugraha, S.Pd.

BAB I
LATAR BELAKANG

Istilah profesi sudah cukup dikenal oleh semua pihak, dan senantiasa melekat pada guru karena tugas guru sesungguhnya merupakan suatu jabatan profesional.
Sebutan profesi selalu dikaitkan dengan pekerjaan atau jabatan yang dipegang oleh seseorang, akan tetapi tidak semua pekerjaan atau jabatan dapat disebut profesi karena profesi menuntut keahlian para pemangkunya. Hal ini mengandung arti bahwa suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, akan tetapi memerlukan khusus untuk itu. Profesional mempunyai makna yang mengacu kepada sebutan tentang orang yang menyandang suatu profesi dan sebutan tentang penampilan seseorang dalam mewujudkan unjuk kerja sesuai dengan profesinya. Penyandangan dan penampilan profesional ini mendapat pengakuan, baik secara formal maupun informal. Pengakuan secara formal diberikan oleh suatu badan atau lembaga yang mempunyai kewenangan untuk itu, yaitu pemerintah dan atau organisasi profesi. Sedang secara informal pengakuan itu diberikan oleh masyarakat luas dan para pengguna jasa profesi. Sebagai contoh misalnya sebutan guru profesional adalah guru yang telah mendapat pengakuan secara formal berdasarkan ketentuan yang berlaku, baik dalam kaitan dengan jabatan ataupun dengan latar belakang pendidikan formalnya. Pengakuan ini dinyatakan dalam bentuk surat keputusan, ijazah, akta, sertifikat, baik yang menyangkut kualifikasi maupun kompetensi. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 pasal 1 ayat (4) dinyatakan bahwa profesional adalah kemampuan melakukan pekerjaan sesuai dengan keahlian dan pengabdian diri kepada pihak lain.
Profesionalisme adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Seorang guru yang memiliki profesionalisme yang tinggi akan tercermin dalam sikap mental serta komitmennya terhadap perwujudan dan peningkatan kualitas profesional melalui berbagai cara dan strategi. Ia akan selalu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman sehingga keberadaannya senantiasa memberikan makna profesional.
Profesionalitas adalah suatu sebutan terhadap kualitas sikap para anggota suatu profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk dapat melakukan tugas-tugasnya. Dengan demikian sebutan profesionalitas lebih menggambarkan suatu keadaan derajat keprofesian seseorang dilihat dari sikap, pengetahuan, dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya.
Profesionalisasi adalah suatu proses menuju kepada perwujudan dan peningkatan profesi dalam mencapai suatu kriteria yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Dengan profesionalisasi para guru secara bertahap diharapkan akan mencapai suatu derajat kriteria profesional sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh undang-undang nomor 14 tahun 2005 yaitu berpendidikan S-1 atau D-IV dan telah lulus sertifikasi pendidik. Pada dasarnya profesionalisasi merupakan suatu proses berkesinambungan melalui berbagai program pendidikan, baik pendidikan prajabatan (preservice), maupun pendidikan dalam jabatan (in service).
Ciri profesi selanjutnya adalah kesejawatan, yaitu rasa kebersamaan diantara sesama guru, kesejawatan ini diwujudkan dalam persatuan para guru melalui organisasi profesi dan perjuangan, yaitu PGRI. Melalui PGRI para guru mewujudkan rasa kebersamaannya dan memperjuangkan martabat diri dan profesinya maka atas dasar prinsip silih asih, silih asuh dan silih asah.
Sebuah perjalanan panjang pribadi penulis berkiprah didunia pendidikan khususnya yang telah penulis jalani di SMP Negeri 1 Ciamis sejak tahun 1994, tentunya penuh dengan suka dan duka. Sebagai guru profesional sejatinya mesti penulis jalani dengan penuh kesabaran dan ketekunan karena sudah merupakan bentuk pengabdian yang memerlukan pemusatan pikiran dari aplikasi bidang studi yang penulis tekuni dulu di perguruan tinggi. Sudah barang tentu, secara tidak langsung memotivasi diri penulis untuk senantiasa berpikir, berbuat dan memberi yang terbaik bagi seluruh anak didik penulis dalam pembelajaran baik didalam kelas maupun diluar kelas misalnya dalam bentuk ekstrakurikuler. Semua itu tidak terlepas dari strategi pembelajaran yang baik guna memperoleh mutu pendidikan yang sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan.
Berpikir positif  yang selalu penulis lakukan setiap menghadapi tugas mulia ini, karena dengan itu bisa menumbuhkan kepercayaan diri untuk melakukan aktivitas rutin yang selalu penulis hadapi setiap hari disekolah. Dukungan serta kerjasama yang baik dari pihak lembaga terutama dari kepala sekolah dan rekan-rekan pengajar dengan mengedepankan rasa solidaritas yang tinggi untuk mengukur kemampuan masing-masing, sangat memberikan kontribusi yang cukup besar kepada diri penulis untuk berkiprah lebih baik lagi khususnya di lingkungan sekolah dan umumnya didunia pendidikan secara luas. Selalu menjaga hubungan baik dengan masyarakat serta adanya keterbukaan untuk saling mengisi kekurangan adalah salah satu faktor penting dalam upaya pengembangan visi dan misi sekolah agar senantiasa terjalin kerjasama yang harmonis antara pihak lembaga sekolah dengan masyarakat itu sendiri. Dan penulis sebagai salah satu staf pengajar di SMPN 1 Ciamis ini, sudah sepantasnya bisa menjunjung tinggi dan melaksanakan kode etik guru secara baik.
Seperti kita ketahui bahwa tugas seorang guru itu tidaklah mudah, selain harus memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi juga mesti memiliki kemampuan yang handal dibidangnya. Menjadi pendobrak inovasi melalui berbagai media pembelajaran yang nantinya akan diterapkan kepada para peserta didik, tentunya pembelajaran yang fleksibel tidak terkesan kaku dan monoton.
Dengan keikutsertaan penulis pada seleksi guru berprestasi ini, berharap bisa memperoleh pengalaman yang baik sebagai bentuk aktualisasi diri dalam pengembangan pendidikan yang nantinya layak dipersembahkan kepada seluruh peserta didik terutama yang ada di sekolah tempat penulis bertugas.
Setiap orang pasti memiliki keinginan meniti puncak untuk berusaha lebih baik dalam pencapaian suatu hal, tentunya penulis pun demikian. Dan visi hidup penulis adalah dengan ilmu dan kemampuan yang penulis miliki diharapkan bisa memberikan sesuatu yang terbaik bagi orang lain.
Berbagai pekerjaan akan lebih mudah dan menyenangkan apabila didasari dengan keikhlasan hati, hal ini telah penulis rasakan dan Alhamdulillah hasil yang diperoleh selalu baik dan tepat sasaran. Dalam melaksanakan tugas sebagai seorang guru tentunya diperlukan stategi dalam memberikan bentuk pengajaran supaya tidak terkesan bekerja seenaknya tanpa persiapan yang matang, sebagai contoh dalam mempersiapkan penyusunan administrasi guru, pemilihan buku paket yang relefan dengan RPP dan SILABUS.
Selaku pribadi yang pekerja keras selalu belum merasa puas dengan hasil yang dicapai, untuk itu penulis selalu menanamkan kedisiplinan dalam segala hal dan ulet dalam menghadapi setiap pekerjaan. Penulis kira ini merupakan hal yang mesti kita lakukan apabila ingin menghasilkan yang terbaik bagi setiap pekerjaan yang kita perbuat. Jujur dalam setiap tindakan merupakan hal yang prinsipil sehingga dari hasil pekerjaan yang kita lakukan akan selalu memberi berkah bagi diri sendiri dan tentunya akan mendapat kepercayaan dari orang lain, semua itu adalah merupakan perwujudan dari kerja keras yang telah dilakukan selama ini.



BAB II
PRESTASI YANG LAYAK
MENJADIKAN PENULIS SEBAGAI GURU BERPRESTASI

Sejak awal penulis menjadi guru tahun 1994, tentunya sudah cukup lama penulis mengabdi dengan ketekunan dan kesabaran serta selalu menjunjung tinggi etika penulis sebagai guru, alhamdullah berbagai pengalaman telah penulis peroleh dimulai sejak aktif di MGMP Bahasa Inggris tahun 1997, penulis sudah dipercaya untuk mengikuti workshop serta pelatihan-pelatihan kegiatan guru, hal ini merupakan modal awal bagi penulis untuk menimba ilmu dan pengalaman sesuai bidang yang penulis emban “guru bahasa Inggris”.
Dari modal pengalaman dan ilmu yang telah penulis peroleh tersebut, Alhamdulillah penulis diberikan kesempatan untuk mentransferkan dan mengamalkan apa yang pengalaman dan ilmu penulis  peroleh, yaitu dengan dipercayanya penulis menjadi instruktur maupun sebagai narasumber pada pelatihan-pelatihan, workshop dan kegiatan-kegiatan lain baik di sekolah maupun diluar sekolah. Tahun 1997 penulis sudah dipercaya untuk menjadi Ketua MGMP sekolah. Tentunya hal ini menjadikan penulis lebih dewasa dan termotivasi untuk senantiasa meningkatkan keilmuan penulis khususnya pembelajaran bahasa Inggris.
Kepercayaan tentunya tidak datang secara tiba-tiba. Atas dasar aktifitas dan pengalaman lebih yang penulis miliki, sejak SMP sampai ketika penulis sekolah di perguruan tinggi selalu aktif berorganisasi, bahkan diluar sekolah baik organisasi kepemudaan, organisasi kesenian karena memang seni khususnya seni tarik suara merupakan bakat yang penulis miliki, maupun kegiatan-kegiatan di lingkungan masyarakat dimana penulis tinggal, aktifitas berorganisasi menjadikan sesuatu yang sulit dipisahkan dari diri penulis. Barangkali untuk jabatan Ketua bukanlah hal asing bagi penulis untuk dilaksanakan. Oleh karena itulah, rekan-rekan guru memberikan kepercayaan kepada penulis untuk menjadi Ketua MGMP Bahasa Inggris di Komisariat 1 Ciamis mulai tahun 2004. Dengan kiprah penulis menjadi leader di MGMP Bahasa Inggris Komisariat 1 Ciamis, tentunya penulis harus bisa membawa rekan-rekan guru bahasa Inggris khususnya di komisariat 1 Ciamis agar bisa meningkatkan kompetensinya dalam pengajaran bahasa Inggris. Maka, pertemuan-pertemuan rutin selalu penulis laksanakan, sehingga diantara rekan guru di komisariat 1 Ciamis bisa saling berbagi dan tukar informasi tentang pembelajaran bahasa Inggris, baik metoda, teknik maupun saling berbagi materi. Dengan aktifitas-aktifitas yang selalu penulis lakukan dan dapat dirasakan manfaatnya oleg rekan-rekan guru, akhirnya kepercayaan lebih meningkat, dan penulis didaulat menjadi Ketua MGMP Bahasa Inggris Kabupaten Ciamis mulai tahun 2007 sampai sekarang.
Tentunya sangat ironis kalau penulis hanya mementingkan kegiatan-kegiatan diluar sekolah. Namun tidaklah demikian, bahkan penulis harus bisa memberikan contoh dan tauladan kepada rekan-rekan guru di sekolah lain bahwa penulis tidak hanya bisa berbicara saja, tetapi bisa membuktikan dan mengaplikasikannya di sekolah kepada siswa yang penulis ajar, dengan bukti bahwa Siswa di sekolah penulis harus bisa berprestasi dalam bahasa Inggris, dan penulis membuktikannya dengan membawa siswa menjadi Juara di ajang-ajang perlombaan atau kontes bahasa Inggris. Memberikan inovasi-inovasi dan gagasan-gagasan kepada sekolah agar selalu terdepan dalam prestasi dan inovasi, hal ini merupakan suatu kewajiban buat penulis, karena dengan penulis bisa memajukan prestasi sekolah berarti penulis sudah bisa menggarap ladang penulis agar selalu tumbuh subur.
Seiring perkembangan dan kemajuan sekolah, dimana SMPN 1 Ciamis menjadi  Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Penulis harus lebih membuka wawasan tidak hanya mencari dan menemukan di dalam negeri. Karena dengan sebutan Bertaraf Internasional, sekolah harus bisa berkomunikasi dan menjalin pertemanan dengan sekolah-sekolah di luar negeri. Maka, dengan modal kemampuan dalam mengoperasikan komputer dan internet penulis mencoba mencari celah untuk dapat berkoneksi dengan sekolah luar negeri. Akhirnya penulis memperoleh jalan melalui situs web British Council yang memiliki program jaringan antar sekolah di dunia yaitu CCO (Connecting Clasroom Online). Melalui situs inilah penulis bisa membawa siswa menjalin hubungan dengan sekolah di luar negeri. Dengan program Connecting Classroom Online ini, siswa melakukan kerjasama dan berbagi informasi dengan mengerjakan project-project yang disediakan oleh CCO. Salah satu sekolah yang sudah menjalin komunikasi dan terjadi kerjasama mengerjakan project adalah sekolah di Pakistan dan India. dan disini penulis ditunjuk menjadi kordinator CCO sekolah. Project yang telah dilaksanakan yaitu bertukar informasi tentang makanan tradisional. Dengan kesabaran dan ketekunan, penulis terus membimbing siswa bisa melakukan project tersebut sampai akhirnya dapat terselesaikan dengan baik.
Inovasi lain yang penulis gulirkan dalam pembelajaran di kelas adalah berkirim email dengan sekolah di luar negeri melalui situs web Epals Global Communication. Dengan epals global communication ini, siswa bisa saling tukar pengalaman dengan cara mengirimkan email. Alhamdulillah, dengan media pembelajaran melalui internet ini siswa bisa belajar menulis dengan senang. Sekolah yang telah berkoneksi melaui epals ini adalah sekolah yang berada di Amerika. Kegiatan ini begitu menyenangkan siswa walaupun penulis harus meluangkan waktu untuk selalu membuka email dalam mengontrol email siswa yang masuk baik yang dari luar maupun yang dikirim oleh siswa penulis.
Pengalaman dan prestasi yang tidak mudah penulis lupakan yaitu ketika penulis lolos pada seleksi program kegiatan Teacher Partnership ke Adelaide Australia Selatan tahun 2010 yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Selama satu bulan penulis melaksanakan kegiatan di Australia. Disana penulis mengikuti pelatihan selama kurang lebih 2 minggu, kemudian melakukan kunjungan dan observasi ke sekolah Seaview High School selama satu minggu dan mengikuti seminar-seminar yang dilaksanakan oleh Universitas South of Australia. Hal ini cukup memberikan pengalaman yang sangat berharga dalam hidup penulis bisa berinteraksi secara langsung dengan guru-guru yang berada diluar negeri, dan dari sini penulis mulai memperoleh pengalaman bagaimana menjalin kerjasama yang baik dengan sekolah-sekolah di luar negeri yang memiliki karakteristik yang berbeda dan kemajuan yang sangat pesat.
Februari 2011, penulis dicoba oleh sekolah untuk melakukan koneksi dan kerjasama dengan sekolah di Singapura dan Malaysia. Selama tiga bulan mulai November 2010 penulis melakukan pendekatan melalui email dengan sekolah di Singapura dan Malaysia. Dengan ketekunan dan kesabaran juga, akhirnya penulis dapat berkoneksi dengan beberapa sekolah di Singapura dan Malaysia dan berlanjut dengan kunjungan penulis secara langsung ke sekolahnya, akhirnya penulis dapat membawa siswa SMPN 1 Ciamis melaksanakan Students Partership Program yang dilaksanakan selama seminggu pada bulan Februari 2011. Hasil kunjungan ini, maka terjalin kerja sama dengan SMK Sultan Ismail Johor Malaysia, Maha Bodhi School Singapore dan Indonesian School of Singapore. Barangkali, itulah puncak prestasi kerja yang bisa penulis lakukan untuk membawa siswa membuka wawasan lebih luas sekaligus memberikan suatu nilai yang cukup berarti bagi sekolah dapat bekerja sama dengan sekolah yang berada di Australia, Singapura dan Malaysia.
Hal ini menjadikan kepercayaan rekan-rekan guru khususnya kepala sekolah untuk selalu melibatkan penulis membantu dalam mengelola dan bekerja memajukan sekolah selain tugas mengajar. Tahun 2000 dipercaya menjadi Pembantu Urusan Humas sampai tahun 2002, setelah itu tidak lagi menjadi Pembantu Urusan, tetapi menjadi Pembantu Kepala Sekolah urusan Humas, jabatan ini tidak tanggung-tanggung dipercayakan pada penulis, menjabat PKS urusan Humas sampai tahun 2010. Alhamdulillah, dengan kepercayaan yang dibebankan kepada penulis, penulis selalu dapat melakukan dan mengerjakan dengan baik dan memberikan hasil yang memuaskan. Maka, dengan kelebihan penulis dalam manajemen dan berkomunikasi, penulis sekarang dipercaya sebagai Manajemen Representative (Wakasek Bidang Manajemen) SMPN 1 Ciamis.



BAB III
PRESTASI DALAM KELUARGA DAN MASYARAKAT

Sebagai kepala keluarga dari istri dan tiga orang anak penulis, walaupun setiap hari berbagai aktifitas penulis lakukan. Namun, penulis tetap selalu mengutamakan dan menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan anak, membimbing mereka dengan kasih penulisng dan mengarahkannya dengan agar mereka selalu memiliki tanggung jawab sebagai anak dan selaku pelajar untuk dapat meraih cita-cita yang mereka impikan dan didambakan orang tua. Dengan kesibukan penulis dan istri sebagai guru, penulis senantiasa memberikan wawasan dan pemahaman bahwa kita semua memiliki tanggung jawab yang harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya agar tidak mengecewakan orang lain. Alhamdulillah, dengan kepercayaan yang penulis berikan kepada anak-anak penulis, anak penulis yang paling besar laki-laki berusia 16 tahun duduk di kelas 10 SMAN 1 Ciamis sejak SD sampai sekarang selalu memperoleh prestasi memuaskan di kelasnya, dan anak penulis yang ke dua perempuan berusia 13 tahun duduk di kelas 7 SMPN 1 Ciamis juga sejak SD sampai sekarang selalu berprestasi di kelasnya, untuk anak yang ke tiga laki-laki masih berusia tiga tahun.
Lingkungan ke dua setelah keluarga adalah masyarakat sekitar yaitu tetangga. Sebagai anggota masyarakat penulis selalu ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi tetangga dan lingkungan sekitar. Maka, tidak heran kalau mereka selalu melibatkan penulis dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan baik tingkat RT, RW dan Kelurahan. Salah satunya untuk di lingkungan RW penulis terlibat sebagai sekretaris RW, dan untuk di tingkat kelurahan penulis juga aktif dalam organisasi kelurahan yaitu Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) yang membidangi Pemuda, Olah Raga dan Seni Budaya. Selain itu pula, penulis aktif dalam kegiatan organisasi social tingkat kelurahan yaitu Lembaga Peduli Yatim Piatu dalam bidang Pendidikan, dimana lembaga ini selalu memberikan bantuan dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua, baik bapak atau ibu atau kedua-duanya, Alhamdulillah, melalui lembaga ini pula penulis bisa  mengamalkan kemampuan penulis dalam bidang bahasa Inggris untuk memberikan bimbingan dan pembinaan bahasa Inggris gratis kepada anak-anak yatim piatu.
Selain dilingkungan, aktifitas penulis juga di tingkat Kabupaten. Sesuai dengan hobi dan kemampuan bakat penulis dalam bidang seni, penulis memiliki organisasi profesi yang membidangi kesenian yaitu Kelompok Muda-Mudi Seni (KM2S). Organisasi ini penulis dirikan dengan sesama teman yang memiliki visi dan misi yang sama dalam berkesenian tahun1991 ketika penulis baru selesai kuliah di IKIP Bandung. Dengan organisasi ini, penulis dan teman-teman penulis tidak hanya mengekspresikan hasrat berkesenian dalam music, akan tetapi memberikan dan mewadahi para pemuda untuk aktif dalam organisasi dan memiliki eksistensi. Alhamdulillah, dari organisasi ini telah melahirkan beberapa anggota yang bisa berkiprah dalam membangun Kabupaten Ciamis baik sebagai anggota Dewan, birokrat, politisi  maupun pengusaha.
Dari keaktifan penulis di organisai KM2S, tentunya menjadi suatu peritimbangan untuk penulis direkrut untuk aktif dalam organisasi kepemudaan yang lebih konstruktif yaitu Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Ciamis. Penulis aktif di KNPI sebagai wakil sekretaris sejak tahun 2006 sampai 2009, dan sekarang termasuk dalam jajaran Dewan Pertimbangan DPD KNPI Kabupaten Ciamis.
Itulah kiprah penulis, walaupun sebagai guru yang harus setiap hari masuk kelas untuk membimbing siswa, disekolah dengan tugas tambahan yang harus penulis selesaikan. Namun, tidak menjadi kendala untuk penulis bisa bergaul dan bermasyarakat mulai tingkat RT sampai di tingkat Kabupaten.




BAB IV
HARAPAN DAN RENCANA KEGIATAN MASA DEPAN


Seperti yang penulis paparkan dalam latar belakang, berkaitan dengan istilah professional guru. Guru adalah suatu sebutan bagi jabatan, posisi, dan profesi bagi seseorang yang mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan melalui interaksi edukatif secara terpola, formal, dan sistematis. Dalam UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 dinyatakan bahwa :
“Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah”
Sebagai karakteristik Guru profesional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Keahlian yang dimiliki guru profesional adalah keahlian yang diperoleh melalui suatu proses pendidikan dan pelatihan yang diprogramkan secara khusus. Keahlian tersebut mendapat pengakuan formal yang dinyatakan dalam bentuk sertifikasi, akreditasi, dan lisensi dari pihak yang berwenang. Dengan keahliannya itu seorang guru mampu menunjukkan otonominya baik secara pribadi maupun sebagai pemangku profesinya.
Di samping keahlian, sosok profesional guru ditunjukkan melalui tanggung jawab dalam melakukan seluruh pengabdiannya. Guru profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa, negara, dan agamanya. Guru profesional mempunyai tanggung jawab pribadi, sosial, intelektual, moral dan spiritual. Tanggung jawab pribadi yang mandiri yang mampu memahami dirinya, mengelola dirinya, mengendalikan dirinya, dan menghargai serta mengembangkan dirinya. Tanggung jawab sosial diwujudkan melalui kompetensi guru dalam memahami dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta memilki kemampuan interaktif yang efektif. Tanggung jawab intelektual diwujudkan melalui penguasaan berbagai perangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunjang tugas-tugasnya. Tanggung jawab spiritual dan moral diwujudkan melalui penampilan guru sebagai makhluk yang beragama yang prilakunya senantiasa tidak menyimpang dari norma-norma dan moral.
Maka, dengan pemahaman tersebut di atas, penulis berpendapat bahwa seorang guru bukanlah sosok yang hanya harus berkutat di dalam kelas, masuk kelas - memberikan materi+memberi tugas - keluar kelas dan pulang. Sebagai makhluk sosial yang professional, guru harus bertanggung jawab bukan hanya di dalam kelas akan tetapi harus mempunyai tanggung jawab sosial bahwa ketika di luarpun bahwa dia adalah seorang guru. Sehingga apabila kita merujuk kembali pada sebuah sebutan bahwa guru itu “di gugu dan di tiru” adalah benar adanya.
Oleh karena itu, di era teknologi sekarang ini banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang guru untuk dapat “di gugu dan di tiru”.  Salah satunya adalah dengan memanfaatkan teknologi IT. Karena sudah tidak bisa ditolerir lagi, kenyataan sekarang IT bukan lagi sesuatu yang dipandang mewah bahkan mahal. Sehingga dengan keadaan ini, sangat riskan IT digunakan oleh siswa untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan juga merugikan, contohnya dengan game online, pornograpi, dan jejaring sosial yang hanya digunakan sebagai alat curahan hati dan adakalanya menjadi ajang caci maki dalam dunia maya.
Untuk itu, penulis mempunyai obsesi memanfaatkan IT dalam menunjang hal-hal sebagai berikut:
-       Komunikasi guru, siswa dan orang tua. Sehingga bisa dimanfaatkan tidak hanya di dalam kelas, akan tetapi guru bisa melakukan komunikasi dan bimbinganya di luar kelas.
-       Sarana pengembangan diri. Dengan sarana ini, guru bisa memanfaatkan IT untuk mencari informasi-informasi terkini baik kebutuhan materi maupun kebutuhan lain yang menunjang terhadap keilmuannya.
-       Memberikan contoh tauladan. Bahwa IT bukan untuk sarana yang tidak bermanfaat, tetapi akan sangat bermanfaat kalau bisa memanfaatkannya dengan baik. Contohnya: Guru membuat blog, sehingga dapat memotivasi untuk berkreasi dan mengekspresikan jiwanya. Ataupun bisa digunakan sebagai sarana pembelajaran yang kreatif dan interaktif.
-       Membuka wawasan. IT bisa dijadikan sebagai perpustakaan internasional, Karena apapun yang kita inginkan bisa diperoleh disana.
Dengan demikian mutu pendidikan Insya Allah bisa meningkat.     

                                                           
                                                                        Ciamis,     April 2012
                                                                        Disusun sebagai salah satu syarat
                                                                        Sebagai peserta Lomba Guru
                                                                        Berprestasi Tingkat Kab. Ciamis
                                                                        Tahun 2012

08 April 2012

E-Learning IV

E-learning Ilmu Pendidikan

Pemanfaatan tekhnologi internet dalam pembelajaran perlu di galakkan sebagai salah satu inovasi baru dalam penggunaan media pembelajaran dan sumber belajar. Berbagai bentuk aplikasi dan fasilitas yang tersedia di internet dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk peningkatan kualitas dan mutu pembelajaran. Selain itu juga dapat mempermudah kegiatan pembelajaran jika ditinjau dari aspek penggunaan media. Salah satu di antaranya adalah pembelajaran dengan e-learning. Belajar dengan e-learning sesungguhnya juga merupakan salah satu bentuk penggunaan media pembelajaran berbasis IT atau berbasis internet. hal ini berarti bahwa dengan e-learning akan menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi mutu dan kualitas hasil belajar siswa. Disamping keuntungan dari aspek media pembelajaran, penggunaan e-learning juga dapat sekaligus manambah kuantitas interaksi kegiatan pembelajaran antara guru dan siswa, dosen dan mahasiswa, karena tidak terbatasi oleh jadwal waktu yang ketat. E-learning Ilmu pendidikan dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif yang dapat menyediakan interaksi jarak jauh secara non formal untuk melakukan kegiatan pembelajaran dengan melakukan kegiatan di ataranya memperoleh materi pembelajaran, sumber belajar, panduan atau bimbingan ataupun tutorial secara bertahap.
E-learning Ilmu pendidikan mengarah kepada pemanfaatannya membutuhkan koneksi internet dengan cara mengkases website E-learning Ilmu pendidikan yang terlebih dahulu dimulai dengan menjadi anggota pada group keanggotaan e-lerning ilmu pendidikan. Untuk memahami secara mendalam ada baiknya terlebih dahulu diuraikan tentang pengertian pembelajaran dengan E-learning Ilmu pendidikan.

Pengertian E-learning Ilmu pendidikan

E-learning atau elektornik learning adalah pembelajaran yang dilaksanakan dengan memanfaatkan fungsi internet dalam kegiatan pembelajaran dengan menjadikan fasilitas elektronik sebagai media pembelajaran. Beberapa definisi e-learning dapat dikemukakan di antaranya adalah definisi Jaya Kumar C. Koran (2002) e-learning sebagai pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Sementara Dong (dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Dari definisi ini dapat dipahami bahwa pembelajaran dengan elearning disamping memanfaatkan fasilitas internet, juga menggunakan perangkat keras seperti komputer atau laptop, jaringan Network yang dapat menghubungkan antara siswa dan guru. Hubungan yang terbangun ini adalah hubungan atau interaksi edukatif antara guru dengan siswa. Dari definisi itu pula dapat dipahami makna dari Pembelajaran dengan e-learning pembelajaran tersebut membutuhkan infrastruktur tersendiri yang mendukung terutama adalah koneksi internet. Sehingga e-learning tidak dapat dipisahkan dari penggunaan internet dalam pembelajaran. Romi Satria Wahono mengemukaan bahwa Infrastruktur e-Learning: dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Selain fasilitas tersebut di atas juga dibutuhkan peralatan teleconference jika ingin melakukan pembelajaran jarak jauh dengan tatap muka melalui teleconfrence.
Pengertian e-learning sebenarnya banyak dirumuskan oleh beberapa pakat IT, akan tetapi secara sederhana dapat dipahami sebagai sebuah model pembelajaran dengan memanfaatkan jasa dan fasilitas internet, sehingga pembelajaran tidak lagi harus ada interaksi langsung antara pengajar dan peserta didik. Dalam beberapa definisi dan pengertian yang dirumuskan juga disebutkan bahwa e-learning merupakan kepanjangan dari “E” yang berarti elektronik dan “learning” berarti pembelajaran sehingga dimaknakan sebagai pembelajaran elektronik yaitu sebuah model pembelajaran yang berbasis elektronik. Dengan demikian maka e-learning adalah pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan fasilitas elektronik yang menggunakan alat bantu teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau Internet. Dengan menggunakan E-Learning memungkinkan setiap siswa atau pebelajar dapat belajar dengan mengakses internet yang berbasis website. Modelnya juga beragam, bisa secaa on-line dimana siswa dapat memperoleh materi dan sumber belajar dari fasilitas on-line ataupun menggunakan sumber dan media belajar ofline dalam bentuk software yang dapat diinstal di komputer peserta didi masing-masing. Sementara interaksinya mutlak online dengan menggunakan jaringan lokal.
Beberapa pengertian e-Learning tersebut memberikan pemahaman bahwa E-learning Ilmu pendidikan adalah:
  1. E-Learning sebagai Pembelajaran jarak jauh yang berarti bahwa E-learning Ilmu pendidikan memungkinkan pebelajar melakukan aktivitas belajar tanpa ada interaksi fisik secara langsung dengan pengajar akan tetapi melakukan kegiatan interaksi pembelajaran secara on-line dalam bentuk real-time off-line dan mengakses arsip.
  2. E-Learning sebagai Pembelajaran dengan bantuan perangkat komputer yang berarti bahwa E-Learning Ilmu pendidikan dilakukan dengan menggunakan atau memanfaatkan media komputer yang dilengkapi dengan dengan perangkat multimedia, koneksi Internet ataupun Intranet lokal.
  3. E-Learning sebagai Pembelajaran formal atau informal yang berarti bahwa E-learning Ilmu pendidikan dalam pembelajarannya dapat dilakukan secara formal ataupun informal misalnya dengan pembelajaran tetap memiliki kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang sama dengan pembelajaran non e-learning akan tetapi memanfaatkan fasilits on line. Sementara untuk pembelajaran informalnya melalui interaksi yang lebih sederhana, seperti sarana mailing list, e-newsletter atau website.

Infrastruktur pembelajaran dengan E-learning Ilmu pendidikan

Wahono  pernah menguraikan secara rinci tentang perangkat infrastruktur elearning sebagai berikut;
  1. Sistem dan Aplikasi E-learning Ilmu pendidikan: Sistem perangkat lunak e-learning adalah sistem yang mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Virtualisasi ini seperti Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, Group Diskusi, sistem penilaian, sistem ujian online dan beberapa fitur yang berkaitan dengan manajemen belajar seperti penyetoran tugas dan akses tentang informasi tugas yangditerima termasuk nilai yang diperoleh.
  2. Konten E-learning Ilmu pendidikan: Konten dan bahan ajar yang ada pada E-learning Ilmu pendidikan adalah system yang menyediakan manajemen sistem yang memuat Konten dan bahan ajar dalam bentuk Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia interaktif) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa), yang tersimpan dalam arcives web.

Keuntungan pembelajaran dengan e-Learning Ilmu Pendidikan

Sebagai bentuk pembelajaran jarak jauh, elearning memiliki beberapa keuntungan yang dapat dirasakan di ataranya adalah:
  1. Pebelajar dapat memperoleh bahan belajar atau materi serta soal-soal yang harus diselesaikan
  2. Pebelajar dapat mengakses dan mengetahui informasi hasil pekerjaan atau nilai yang diperoleh dari setiap tes yang diselesaikan
  3. Pembelajar dapat belajar dari komputer pribadi dengan memanfaatkan koneksi jaringan lokal ataupun jaringan Internet
  4. Pebelajar dapat menggunakan media CD/DVD yang telah disipkan.
  5. Pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat dari mana ia mengakses pelajaran.
  6. Jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi dan berinteraksi dalam kegiatan pembelajaran tidak terbatas dengan kapasitas kelas.
  7. Pebelajar dapat melakukan interaksi secara berkelompok melalui Group yang dapat dibuatsendiri oleh para pebelajar berdasarkan tema atau materi pelajaran.
  8. Materi pelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajar.
Pemanfaatan e-learnning sudah seharusnya mulai dirintis atau diterapkan mengingat kondisi sekarang, di mana siswa atau mahasiswa sudah dengan mudah mengakses informasi internet.  Menjadi tanggung jawab seluruh stake holders pendidikan agar dapat secara bersama-sama mewujudkan model pembelajaran melalui pemanfaatan media pembelajaran elearning untuk mendukung siswa memperoleh sumber dan materi Perlu dipahami bahwa e-learning adalah salah satu bentuk penekatan dan pemanfaatan media pembelajaran yang diharapkan dapat membantu siswa atau belajar untuk melakukan interaksi edukatif secara terus menerus sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan sehingga tujuan pendidikan nasional dapat dicapai.

Sumber: http://elearningpendidikan.com/e-learning-ilmu-pendidikan.html 

E-Learning III

Bagaimana Guru Mengaktifkan Siswa Belajar

Untuk mengaktifkan siswa belajar, maka hendaknya membuat pelajaran yang diajarkan itu menantang, merangsang dan menggugah daya cipta siswa untuk menemukan sesuatu dan mengesankan. Ada beberapa prinsip yang sangat penting diketahui dan diterapkan oleh guru yaitu:
Prinsip motivasi
Guru hendaknya bertindak selaku motivator untuk merangsang daya dorong pribadi siswa melakukan sesuatu (motivasi intrinsik pada diri siswa dan motivasi ekstrinsik dari luar diri siswa). Untuk motivasi intrinsik, menggairahkan perasaan ingin tahu siswa, keinginan untuk mencoba dan hasrat untuk maju dalam belajar dan untuk motivasi dari luar/ekstrinsik, siswa diberi ganjaran berupa pujian atau hukuman yang wajar.
Prinsip latar atau konsep,
Siswa akan terangsang mempelajari sesuatu jika mengetahui adanya hubungan langsung pada hal-hal yang sudah diketahui sebelumnya. Guru hendaknya mengetahui apa kira-kira pengetahuan keterampilan, sikap dan pengalaman yang sudah dimiliki siswa. Dengan pengetahuan latar ini, guru dapat menyajikan bahan pelajaran baru.
Prinsip keterarahan pada titik pusat/fokus
Suatu pelajaran hendaknya dipolakan agar mampu menjaring bahagian-bahagian yang terpisah dari pelajaran. Dengan pola itu siswa dapat memusatkan perhatian pada bahagian inti pelajaran dan secara menyeluruh dan berkesinambungan dapat memahami keterkaitan bahagian-bahagian pelajaran tersebut. Titik pusat itu akan membatasi keluasan dan kedalaman tujuan belajar yang ingin dicapai dalam bentuk rumusan standar kompotensi, kompotensi dasar dan indikator
Prinsip hubungan sosial
Kegiatan belajar bersama dalam kelompok perlu dikembangkan dikalangan siswa, karena hasil belajar akan lebih baik. Pengelompokan siswa (4 – 6 orang perkelompok) dapat dilakukan dengan pendekatan kemampuan, tempat tinggal, jenis kelamin, dan minat. Setiap kelompok diberi tugas yang berbeda dari sumber materi yang sama.
Prinsip belajar sambil bekerja
Bekerja merupakan tuntutan menyatakan diri untuk berprestasi pada diri anak, karena itu berilah kesempatan mengembangkan dirinya melalui kegiatan bekerja sambil belajar atau belajar sambil bekerja. Perolehan melalui kegiatan bekerja mencari dan menemukan sendiri tidak mudah dilupakan. Semakin bertambah usia dan pengalaman, makin berkurang kadar kerja dan makin bertambah kadar berpikir.
Prinsip individualitas/perbedaan individualitas
Setiap anak dilahirkan menurut kadarnya atau kemampuan masing-masing (fitrah) dengan latar belakang kehidupan sosial yang berbeda-beda. Guru hendaknya tidak memperlukan setiap siswa sama. Seharusnya, guru mencari informasi dari setiap siswa untuk mengetahui latar dan berilah peluang untuk mengembangkan “fitrahnya” dalam mencari dan menemukan sendiri, merasakan getaran pikiran, perasaan, hati dan kemauannya.
Prinsip menemukan sendiri
Perolehan yang ditemukan sendiri akan sangat terkesan pada diri siswa, sebab itu berilah peluang dan bimbingan agar siswa secara aktif menemukan sendiri apa yang diketahuinya, dirasakan, dan dipikirkannya.
Prinsip memecahkan masalah.[1]
Guru hendaknya melibatkan siswa dalam berbagai pengalaman yang mengandung problema dan memerlukan pemecahan. Berilah peluang dan bimbinglah agar siswa mampu memilih alternatif pemecahan masalah.
Prinsip-prinsip belajar di atas merupakan system Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang memberi peluang kepada siswa belajar proses untuk mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotornya.

Sumber: http://elearningpendidikan.com/bagaimana-guru-mengaktifkan-siswa-belajar.html

E- Learning II

Pengertian Pembelajaran Langsung (experiental learning)

Pembelajaran langsung (experiental learning) merupakan salah satu pandangan yang menghedaki  model pembelajaran di mana siswa dijadikan sebagai komponen yang paling aktif dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Konsep tersebut dikenal juga dengan istilah  learning by doing bahwa belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung. Pandangan tersebut didasarkan pada teori belajar yang dikemukakan oleh Rogers bahwa sesungguhnya praktek pendidikan menitikberatkan bukan pada segi pengajaran yang dilakukan oleh guru akan tetapi pada aspek kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif baik dengan individual maupun kelompok dengan melibatkan komponen fisik,  emosional pengetahuan penghayatan dan internalisasi nilai-nilai (Dimyati dan Mudjiono, 2006).
Pada dasarnya kegiatan belajar dengan Pembelajaran langsung (experiental learning) tidak semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam  bentuk informasi/materi pelajaran atau sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis, tetapi belajar adalah proses yang melibatkan seluruh komponen fisik dengan psikis seseorang dalam sebuah tindakan atau prilaku yang sangat kompleks yang dialami oleh seseorang secara sendiri yang bersumber dari lingkungannya. Pembelajaran langsung (experiental learning) dimaksudkan agar siswa dalam kegiatan belajar siswa mengalami langsung peristiwa belajar tersebut. Menurut  Teori belajar Gagne (dalam Dimyati dan Mudjono, 2006)  belajar terdiri dari tiga tahapan penting yaitu persiapan untuk belajar, perolehan dan unjuk perbuatan serta retrival dan alih belajar. Ketiga hal tersebut merupakan fase yang dilewati siswa dalam kegiatan belajar.
Pandangan Rogers mendukung model Pembelajaran langsung (experiental learning) dimana siswa harus mengalami sendiri kegiatn belajar tersebut. Roger (dalam Dimyati, 2006) megemukakan bahwa  prinsip pembelajaran yang optimal harus  melibatkan partisipasi langsung siswa  secara bertanggung jawab dalam proses belajar mengajar. Hal tersebut berarti bahwa  siswa dapat memperoleh pengetahuan dan mengembangkan potensi dasar yang dimilikinya jika dalam kegiatn pembelajaran yang dilakukan dapat berpartisipasi secara aktif pada kegaitn pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dalam kelas.
Selain itu kegiatan Pembelajaran langsung (experiental learning) dimana siswa harus mengalami sendiri ditegaskan oleh Edgar Dale bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung sehingga siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat secara langsung dalam perbuatan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006) yang bersesuaian dengan pandangan Rogers bahwa belajar mengalami atau (experiental learning) dapat terjadi jika  siswa mampu mengevaluasi diri sendiri. Dengan melakukan kegiatan belajarn langsung siswa dapat memberi peluang  untuk belajar kreatif, self evaluation dan kritik diri sendiri.

Langkah-langkah Pembelajaran Langsung (experiental learning)

Pandangan tentang Pembelajaran langsung (experiental learning)  mengarah  pada asumsi dasar bahwa sesungguhnya pembelajaran dengan menggunakan model pembeljaran langsung menuntut keterlibatan  siswa secara penuh dan sungguh-sungguh. Rogers (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006) mengemukakan beberapa langkah yang harus dilakukan oleh guru dalam menerapkan model pembelajaran langsung yaitu:
  1. Guru memberikan kepercayaan kepada kelas agar memilih  belajar secara terstruktur.
  2. Guru dan siswa membuat kontrak belajar
  3. Guru menggunakan metode inkuiri atau belajar menemukan.
  4. Guru menggunakan metode simulasi
  5. Guru mengadakan latihan kepekaan agar siswa mampu menghayati perasaan dan berpartisipasi pada kelompok lain
  6. Guru bertindak sebagai fasilitator dalam belajar
  7. Guru menggunakan kegiatan pembelajaran berprogram agar tercipta bagi siswa peluang untuk menumbuhkan kreatifitas.

Belajar dalam konteks Pembelajaran langsung (experiental learning) berarti bahwa kegiatan tersebut harus dilakukan oleh dan dialami sendiri oleh siswa., belajar adalah mengalami sehingga kegiatan belajar tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.

Sumber: http://elearningpendidikan.com/pengertian-pembelajaran-langsung-experiental-learning.html

E-Learning

Penggunaan IT sebagai Media dan Sumber Belajar

Penggunaan IT sebagai media dan Sumber belajar sudah sangat diperlukan bagi guru dan siswa. Pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas sudah saatnya dilaksanakan melalui

Penggunaan IT sebagai Media dan Sumber Belajar

Hal ini sudah menjadi tuntutan zaman di mana perkembangan IT sejak memasuki  abad ke-21, berkembang  dengan pesat. Hal ini karena dipicu oleh temuan dalam bidang rekayasa material mikroelektronika. Perkembangan ini berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, bahkan perilaku dan aktivitas manusia kini banyak tergantung kepada teknologi informasi dan komunikasi. Termasuk didalamnya adalah dalam bidang pendidikan, dimana selain dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan dan pengajaran juga dapat bepengaruh terhadap prilaku peserta didik. Sehingga menjadi perlu untuk diperkenalkan secara dini melalui Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi agar peserta didik mampu mengantisipasi pesatnya perkembangan tersebut.
Hasil dari tekhnologi informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya baik oleh guru maupun oleh siswa sebagai sumber belajar.

Penggunaan IT sebagai Media dan Sumber Belajar

dengan memasukkan materi pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi pada jenjang  formal mencakup penguasaan keterampilan komputer, prinsip kerja berbagai jenis peralatan komunikasi dan cara memperoleh, mengolah dan mengkomunikasikan  informasi. Disamping sebagai materi pembelajaran maka juga berkaitan dengan pemanfaaanmedia informasi dan tekhnologi sebagai seumber belajar.
Secara rinci dalam KTSP disusun tujuan utama pembelajaran IT adalah
  • Memahami teknologi informasi dan komunikasi
  • Mengembangkan keterampilan untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
  • Mengembangkan sikap kritis, kreatif, apresiatif dan mandiri dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi
  • Menghargai karya cipta di bidang teknologi informasi dan komunikasi.
Mengingat kemampuan dan keterbatasan tenaga pendidikan dan pebelajar dalam menguasai IT, maka perlu dilakukan sosialisasi, bagi guru melalui MGMP sWirelessecara formal dan dapat juga mengikutkan guru dalamberbagai bentuk pelatihan penggunaan IT. Disamping itu juga guru diharapkan dapat mengembangkan potensi dirinya dengan berusaha memperoleh informasi tentang IT untuk meningkatkan kemampuan pribadinya dalam bidang tersebut.
Sementara untuk siswa agar dapat memamhami dan menggunakan IT sebagai sumber belaajar tentu harus memperoleh dari kegiatan pembelajaran yang diajarkan guru dan dapat pula memperoleh informasi tentang IT melalui sosialisasi yang dilakukan oleh lembaga independen. Beberapa komponen materi yang dapat disampaikan berkatian dengan percepatan pengetahuan guru dan siswa untuk dapat menggunakan IT sebagai sumber belajar dan media pembelajaran adalah sebagai berikut:
  • Jaringan Telekomunikasi (wireline, wireless, modem dan satelit) memuat tentang penjelasan  fungsi, dan cara kerja jaringan telekomunikasi (wireline, wireless, modem dan satelit
  • Perangkat keras dan fungsinya untuk keperluan akses Internet untuk Menjelaskan berbagai perangkat keras dan fungsinya untuk keperluan akses Internet
  • Akses Internetmemuat materi tentang deskripsi cara akses Internet dan cara Mempraktikkan akses Internet
  • Web Browser dan Search Engine berisi tentang penggunaan web browser untuk  memperoleh, menyimpan, dan mencetak  informasi
  • E-mail mengajarkan cara Menggunakan e-mail untuk keperluan informasi dan komunikasi
  • Blogging memuat materi Pengenalan dasar-dasar Blogging dan Mempraktekkan Membuat Blog
  • Etika dan Moral dalam penggunaan  Teknologi Informasi dan  Komunikasi berisi penjelasan tentang aturan yang berkaitan dengan etika dan moral terhadap perangkat keras dan perangkat lunak teknologi informasi dan komunikasi
Beberap poit tersebut masih perlu dikembangkan sesuai dengan tingkat penguasaan siswa dan guru terhadap IT. Denan demikian diharapkan guru dan siswa telah mampu menggunakan IT sebagai media dan sumber belajar.

Penggunaan IT sebagai Media dan Sumber Belajar

diharapkan dapat membantu pencapaian tujuan pembelajaran yang dilaksanakan guru bersama siswa dalam kelas.

Sumber: http://elearningpendidikan.com/penggunaan-it-sebagai-media-dan-sumber-belajar.html 

02 April 2012